Postingan

Perjuangan Itu Lezat dan Nikmat

Gambar
Ternyata ikhtilaf pun bisa terjadi dalam bab jengkol dan peuteuy . Menurut saya keduanya enak dan lezat. Apalagi jengkol, jika dimasak (digoreng, dikecap, disemur, dll.) menurut saya aromanya yang tercium itu wangi. Entah persepsi rekan-rekan, jengkol atau peuteuy enak tidak? Hehe… Dalam pengajian kemarin sore bersama Ust. Hamdan Abu Nabhan, beliau jelaskan bahwa kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu itu didorong oleh beberapa faktor. Salah satu diantaranya adalah karena ada kenikmatan atau kelezatan di dalamnya. Dan, beliau mecontohkannya dengan analogi jengkol dan peutey . Demikian dalam hal pilihan perjuangan. Kenapa kita lebih memilih berlelah-lelah berjuang padahal secara materi tidak menghasilkan keuntungan justru banyak pengorbanan? Salah satu penyebabnya adalah karena ada kenikmatan dan kelezatan dalam perjuangan. Bahasa gayanya ada spiritual satisfaction . Ini sifatnya metafisik tidak bisa dilihat dan hanya bisa dirasakan oleh ia yang lurus niat dan benar...

MASJID Itu Dibangun Untuk DIMAKMURKAN

Gambar
Dalam suatu diskusi dengan salah satu sahabat, disinggung tetangganya bercerita bahwa ia menjadi ahli masjid baru-baru ini. Awalnya, tetangganya itu seorang goweser . Jarak jauh sudah biasa ditempuh. Luar kota sudah biasa dijajaki. Hingga tiba pada suatu moment gowes -nya, saat ia rehat persis di seberangnya ada mushalla yang begitu indah. Tak biasanya, saat itu si tetangga bergumam bahwa ia sanggup dan berkorban untuk aktivitas gowesnya. Waktu berjam-jam hingga berhari-hari ia habiskan untuk gowes. Ia sampai pada tempat tujuan gowes yang jauh itu, tapi ke masjid dekat rumahnya ia jarang bahkan tak pernah sampai padahal jaraknya cuma beberapa meter. Tidak sampai kilometeran. Dari saat itulah kemudian ia menemukan titik balik. Ia kurangi hingga berhenti dari gowesnya dan kini menjadi ahli masjid. Masyaallah, sungguh luar biasa…! Btw, tentang masjid dan shalat di masjid memang harus menjadi perhatian kita. Kenapa masjid itu disyariatkan dibangun dan kenapa shalat di m...

Luqman al-Hakim, Anak, Keledai dan Persepsi Orang

Gambar
Dikisahkan dalam sebuah riwayat, bahwa pada suatu hari Luqman al-Hakim telah memasuki pasar dengan menaiki seekor himar (keledai), sedangkan anaknya mengikutinya dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, orang-orang berkata, “Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki.” Setelah mendengarkan desas-desus dari orang-orang tersebut maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat keduanya, maka orang di pasar itu berkata pula, “Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang ajar anak itu.” Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun naik ke punggung himar itu bersama anaknya. Kemudian orang-orang berkata lagi, “Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, mereka sungguh menyiksakan himar itu.” Karena ia tidak suka mendengar percakapan orang, Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi orang berkata, “Dua orang berjalan...

Sekolah Itu Partner Bukan Panti

Gambar
Hari ini hari pertama anak saya duduk di bangku sekolah barunya. Sekolah yang saya jadikan partner dalam rangka mewujudkan generasi Rabbani, generasi pelanjut estafeta perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam . Prinsip saya adalah bukan sekolah yang mengajak kita kerjasama, tetapi kita yang mengajak sekolah sebagai mitra kerjasama pendidikan anak. Artinya, “saham” ada di kita. Kita adalah pemegang “saham” terbesar dalam mendidik anak. Bagi saya, pendidikan itu ada di tangan orang tua: saya dan istri. Selebihnya adalah mitra kami termasuk sekolah. Oleh karena itu, jangan jadikan sekolah seperti panti jompo: kita titipkan anak lalu kita lupa kewajiban utama sebagai ayah dan ibu. Yang harus membangun karakter anak sebenarnya adalah kita, orang tua. Yang mesti mewasilahi peradaban mulia adalah kita, orang tua. Ini harus menjadi pegangan bagi seluruh orang tua. Sekali lagi, bahwa kita adalah pemegang “saham” terbesar dalam pendidikan anak. Kita harus banyak berpera...

Besar Mana Belanja Untuk Dunia dan Belanja Untuk Akhirat?

Gambar
Saat kita mendengar kata harta, maka asumsi orang biasanya tertuju pada orang-orang kaya. Padahal sejatinya apapun yang saat ini dimiliki itu adalah harta. Karena, definisi harta tidak terikat dengan kuantitas kepemilikannya. Sandal jepit yang saat ini kita miliki adalah harta. Pakaian yang saat ini kita pakai adalah harta. Alat-alat rumah tangga yang saat ini ada di rumah kita itu semuanya harta: bagus tidak bagus, banyak sedikit, baru atau lama. Uang yang kita miliki saat ini adalah harta. Apa poinnya? Harta kita yang sekarang ada di tangan kita sudahkah menjadi alat/kendaraan surga? Pertanyaan ini bukan pertanyaan yang harus dijawab. Tetapi, ditafakuri dalam rangka muhasabah diri. Selanjutnya ada   pertanyaan kedua. Selama kita belanja, besar mana belanja untuk dunia dan belanja untuk akhirat? Inipun tidak perlu dijawab lisan. Hanya untuk bahan tafakur dalam rangka muhasabah diri. Kenapa hal ini diangkat? Pertama, kita harus sadar bahwa dunia ini bukan m...

The Power of Tega Mendidik Anak Untuk Shalat

Gambar
Mendidik Shalat Orang tua yang visioner menginginkan anaknya tidak hanya sukses di dunia, di akhirat pun ingin meraih kemenangan (masuk surga). Tidak ada yang tega anaknya disiksa di dalam neraka. Cita-cita utama semua keluarga muslim masuk surga sekeluarga. Maka, tugas utama orang tua muslim ya menanamkan nilai-nilai agama dan melakukan proses ta`dib. Dan, proses ta`dib ini tidak cukup hanya dengan mulut tetapi sangat efektif dengan teladan. Salah satu proses ta`dib yang secara sharih dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ta`dib shalat. Bagaimana orang tua mengkondisikan agar anaknya menjaga shalat: menjaga wudhunya, menjaga waktunya, menjaga jama’ahnhya dan menjaga tepat shalatnya. Dalam arti lain, dalam perkara shalat orang tua wajib mendidik bagaimana wudhu yang benar, men-ta`dib agar anak shalatnya di awal waktu, berjamaah dan dilakukan di masjid. Dan, kembali ke kosep tadi bahwa ta`dib tidak boleh hanya dengan lisan (perintah, larangan) tetapi ...

Dha’if: Abdurrahman bin ‘Auf Masuk Surga Dengan Merangkak

Gambar
Benarkah Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan merangkak? Pasalnya, hisab harta yang dimilikinya cukup berat dan melelahkan. Sebelum menelusuri pernyataan tersebut, secara dhahir silahkan rekan-rekan tafakuri. Bisakah sekelas sahabat masuk surga begitu payahnya padahal sahabat tersebut termasuk ke dalam 10 sahabat yang dijamin masuk surga? Pernyataan tersebut adalah matan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Al-Musnad dan Ath-Thabrani di dalam al-Mu’jamul Kabir dari jalan ‘Imarah bin Zadzan dari Tsabit Al-Bunani, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu . Berikut nukilan matannya: Pada suatu hari, saat kota Madinah sunyi senyap, debu yang sangat tebal mulai mendekat dari berbagai penjuru kota hingga nyaris menutupi ufuk. Debu kekuning-kuningan itu mulai mendekati pintu-pintu kota Madinah. Orang-orang menyangka itu badai, tetapi setelah itu mereka tahu bahwa itu adalah kafilah dagang yang sangat besar. Jumlahnya 700 unta penuh muatan yang memadati jalanan Mad...